Indonesian readings / Beginner 2 / Travel Experiences
Visiting Yogyakarta for the First Time
Mengunjungi Yogyakarta untuk Pertama Kali
Saya mengunjungi Yogyakarta untuk pertama kali minggu lalu. Saya datang dengan kereta pagi dari Jakarta, dan perjalanan terasa nyaman. Di jendela saya melihat sawah hijau dan gunung di kejauhan. Saat tiba di stasiun Tugu, udara hangat dan orang orang tersenyum pada saya. Saya berjalan ke penginapan kecil dekat Malioboro, lalu beristirahat sebentar. Setelah mandi, saya keluar mencari makan siang. Saya mencoba nasi ayam dan es teh manis, harganya murah dan rasanya enak. Sore hari saya berjalan di Jalan Malioboro. Jalan itu ramai dengan pedagang, musik jalanan, dan lampu. Saya melihat batik dengan pola indah, lalu membeli sehelai kain kecil sebagai oleh oleh. Para penjual berbicara dengan ramah dan sabar. Saya juga mencicipi gudeg khas Yogyakarta. Rasanya manis dan lembut, dan saya suka kombinasi nangka muda dengan telur. Keesokan paginya saya ikut tur matahari terbit ke candi Borobudur. Langit perlahan berubah warna, dan udara terasa segar. Setelah itu saya kembali ke kota dan mengunjungi Keraton serta Taman Sari. Saya memakai becak untuk berkeliling, berbicara dengan bapak pengemudi, dan belajar beberapa kata Jawa sederhana. Perjalanan ini membuat saya merasa tenang dan bahagia. Saya ingin kembali lagi ke Yogyakarta suatu hari nanti.
English Translation
I visited Yogyakarta for the first time last week. I came by a morning train from Jakarta, and the trip felt comfortable. At the window I saw green rice fields and mountains in the distance. When I arrived at Tugu station, the air was warm and people smiled at me. I walked to a small guesthouse near Malioboro, then rested for a moment. After a shower, I went out to look for lunch. I tried rice with chicken and iced sweet tea; the price was cheap and the taste was delicious. In the late afternoon I walked on Malioboro Street. The street was busy with vendors, street music, and lights. I saw batik with beautiful patterns, then bought a small piece of cloth as a souvenir. The sellers spoke kindly and patiently. I also tasted Yogyakarta's special gudeg. The taste was sweet and soft, and I liked the combination of young jackfruit with egg. The next morning I joined a sunrise tour to Borobudur temple. The sky slowly changed color, and the air felt fresh. After that I returned to the city and visited the Keraton and Taman Sari. I used a pedicab to go around, talked with the driver, and learned some simple Javanese words. This trip made me feel calm and happy. I want to return to Yogyakarta again someday.